DARI SETIAP KOTA. BAG. I : KOTA-KOTA KECIL DI SUMATERA
Dear diary,
Sejak kecil dalam pikiranku tidak pernah terlintas berniat mengelilingi dan menikmati wisata kota2 lokal yang melintang dari timur hingga barat Indonesia. Tapi ternyata aku menyadari sebagian besar hidupku bersama keluarga justru diwarnai dengan kenangan dari hasil penempatan tugas ayahku di satu kota ke kota lain di Indonesia ini. Kalau dihitung2 aku sudah sembilan kali pindah kota melewati sembilan tahun masa pendidikan di lima SD yang berbeda dan tiga SMP yang berbeda juga (Phew!) Di setiap kota aku bertemu banyak orang dengan bermacam2 karakter, budaya dan bahasa serta mengenal banyak tempat wisata. Dan dari setiap kota itu pula aku mendapat banyak pengalaman dan kisah2 yang sangat berharga.^^
[Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan]
Tahun 1984, Aku lahir disana. besar selama 1,5
tahun. Sempat 1,5 tahun lagi di Medan kota. Dulu Padang Sidempuan masih
merupakan kota bagian dari Tapanuli Selatan. Tidak banyak yang kuingat semasa
tinggal di Padang Sidempuan dan Medan, karena memang aku cuma sebentar di sana.
Cerita keluargaku tentang Padang Sidempuan yang punya arti ‘tanah yang berada
di atas’ bisa dibilang kota kecil dengan suhu udara dingin yang cukup tinggi,
ramai dengan aktivitas penduduk Mandailing. dari
situlah orangtuaku mendapat ide memberiku nama Mandha ditengah nama lengkapku.
Tapi teman2 dan keluarga
besarku biasa dulunya manggil aku dengan nama Rian - Rian kecil..atau
gampangnya panggil aja Liltrian…atau pengen panggil aku Lindsay Lohan juga OK.
Aeeh..terserah
deh. penting ga siy bahas namaku?..Engga! xixixi.
Konooon…penamaan
Mandailing atau disebut juga Mengdelling, Mandahiling, Mendeheleng, Mandheling,
Mandiling, Mandaling, Mendeleng, dll mempunyai cerita sejarah yang unik kaitannya
mengenai jati diri sebuah kelompok etnis melayu Islam Aceh dan Minangkabau di
‘Tanah Batak’ berpadu dengan nilai budaya Hindhu juga peradaban pemerintah
kolonial. Kebetulan aku berhasil browsing informasi Sejarah Mandailing disini,
jangan lupa sempetin baca yaa..menarik loh!
Dari segi geografis (masih berdasarkan cerita ortuku..) kota Padang Sidempuan berperan sebagai area terluas untuk perkebunan tanaman karet, Penghasil rempah kopi Mandheling yang nikmat juga penghasil Salak terbesar no.3 di Indonesia (setelah salak Pondoh,Yogya dan salak Bali). Rasa kesatuan salaknya yang sedikit asam plus manis ini tidak boleh ketinggalan untuk dijadikan buah tangan para pelancong usai jalan2 kesini. Peran lainnya Ia menjadi kota transit antara Sumbagsel (Sumatera bagian selatan) dengan kota Sibolga. Saat orang2 melintasi Padang Sidempuan jarang bisa betah menikmati jalannya yang berkelok2 berteksturkan turun naik antar perbukitan. Makanya hanya dibilang kota transit atau ‘kota yang terlewatkan’ – yaaa sekadar mampir jika memang ada perlunya. Padahal kalau kita luangkan waktu berlibur kesana kira2 jarak 20 kilometer dari pusat kota kita bisa menikmati wisata keindahan alam Danau Siais dan Goa sosa serta komplek Candi Bahal peninggalan sejarah Mandailing itu tadi.
Tips: untuk menempuh tempat2 wisata disana tidak bisa dengan taksi atau bus umum karena pasti ga akan nyaman dengan waktu dan kondisi jalan setempat. Satu2nya cara sewa kendaraan keluarga dan bawa banyak minuman juga cemilan! Atau sekalian aja bawa paket rantang nasi dengan lauk khas Padang Sidempuan seperti belut sambal, gulai kepala ikan mas, sayur daun ubi tumbuk dll yang bisa dibeli di restoran pusat kota. Pokoknya disana betul2 menyuguhkan pemandangan alaminya jadi kalau laper yaa bakal sulit cari makanan khas pondokan tepas (bambu) atau restoran café.
[Jakarta 1]
Mutasi dinas ortuku berlanjut ke Jakarta di tahun 1988. Kondisi umum kota Jakarta waktu itu kurang lebih hampir sama dengan Jakarta di masa sekarang. Macet, banjir, semerautan ruas jalanan Jakarta harus bersaing dengan kepadatan pedagang kaki lima dan angkotan umum, pokoknya: sama saja. Perbedaan yang sangat mencolok di Jakarta sekarang?? paling karena di jamuri dengan bangunan raksasa shopping centre serta apartement mewah. Menurutku perkembangan Jakarta sesuai tuntutan lifestyle masyarakatnya yang meningkat terhadap Fashion, kebutuhan alat teknologi, tempat hunian modern, juga hiburan ala metropolitan. OK. Forget it.
Kita balik ke kenangan manisku selama di Jakarta masa dulu aja yaaa. Caelaah..manis?! *mesem2 deeh situ :P.
Aku dan adik sempat dibawa ortu mengunjungi Monas, TMII, dan Ancol.
Mungkin kedengarannya cerita ini agak klasik. Tapi aku, si Rian kecil, pun menyimpulkan ooow…Monas itu adalah titik pusat kota Jakarta, karena dari puncak ketinggian Monas kita bisa melihat hamparan keindahan taman dan bangunan ke penjuru kota Jakarta. Kemudian, di ruangan diorama lantai dasar Monas kita bisa mengetahui detail sejarah jaman kerajaan-kerajaan nenek moyang Bangsa Indonesia hingga G30S PKI. Hari-hari berikutnya ke TMII, Taman Hiburan & wisata mini budaya Indonesia berlokasi di Jakarta Timur. Terdapat bangunan anjungan daerah, rekreasi kereta gantung dan teater Imax Keong Mas, Museum IPTEK, dll. Lanjut ke Ancol di Jakarta Utara, ada Dunia Fantasi (Dufan) yang hangat dibicarain masyarakat waktu itu. Akhirnya, keluargaku pun ikut mencoba menikmati wisata yang sarana hiburannya banyak tercipta dari mesin berteknologi tinggi.
Well, Cukuplah bagiku dulunya mengenal Jakarta selama 2,5 tahun. My childhood memories has fascinated by Jakarta….Ehm, Next!
[Jambi]
Di Jambi keluargaku menempati sebuah rumah dinas yang cukup besar dan bergaya kuno-Belanda, terletak di dekat pusat kantor pemerintahan kota Jambi. Di sanalah aku menghabiskan sebagian masa kecilku di awal tahun 90an selama tiga tahun. Salah satunya menikmati jalan2 sore ke sungai Batang Hari. Sungai ini, termasuk salah satu sungai terlebar di Indonesia memang dirancang untuk rekreasi. Letaknya tepat di depan rumah Gubernur Jambi. Banyak orang duduk2 di sana, melihat sunset yang sangat indah sambil minum air tebu. Aku juga pernah menyeberangi sungai dengan speed boat untuk melihat-lihat candi2 peninggalan kerajaan zaman dulu.
Namanya Candi Muara Jambi, sudah menjadi objek pariwisata ekosistem dengan ragam flora dan fauna. Di sekitar wilayah Muara Jambi, kabupaten Sarolangun itu masih dihuni oleh suku Anak Dalam alias suku Kubu.
Selama tinggal di Jambi ortuku sering bolak-balik ke Palembang untuk urusan pekerjaan. Jadi aku juga cukup sering jalan2 ke sana. Cuma sayang aku tidak begitu ingat, hanya ada kenangan merengek-rengek minta dibawa ke Jembatan Ampera dan suka pesan mpek-mpek asli Palembang yang sangat uenakk itu menjadi makanan wajib setiap kali aku ke sana sambil bawa pulang oleh2 cemilan srikaya pandan.
Pontensi pariwisata Jambi lainnya belum aku sempat dikunjungi tapi kalau aku berencana datang lagi ke Jambi mungkin akan coba datangi taman nasional Kerinci Seblat. Di pedalaman taman nasional ini terdapat 24 jenis satwa mamalia dan reptil yang dilindung pemerintah.
Kalau berani..pergilah bersama pemandu taman nasionalnya
untuk keliling melihat langsung hewan hutan Kerinci Seblat seperti Harimau
Sumatera, Gajah Sumatera, kambing gunung.
jadi ingat ada yang pengen tau
rasa sate kambing gunung..hehehe.
Ada kucing hutan (Golden cat & Marled Cat), tapir belang, beruang hitam, buaya air asin, dll. Hutan ini juga tempat temuan pertama kalinya bunga bangkai Rafflesia arnoldi.
Seru kaya’nya…jadi ngapain jauh2 menikmati binatang langka yang dilindungi di Afrika sana, Di Indonesia pun ada kan? Tertarik? sayangnya aku tidak ada tips cara menghindari serangan binatang buasnya. Xixixi :P silakan browsing internet dulu cari tahu amannya masuk hutan lindung itu bagaimana.
[Kotabumi, Lampung Utara]
Kembali lagi keluargaku mendapat tugas di kota yang populasinya kecil seperti Padang Sidempuan. Kotabumi juga sebagai kota lintasan atau transit bagi mereka yang melakukan perjalanan bolak-balik Sumatera dan pulau Jawa. Potensi kepariwisataan di Kotabumi kurang mendapat perhatian khusus pemerintah. Ada bendungan Way Rarem namanya, meskipun bendungan itu difungsikan sebagai irigasi, bagiku tempat tersebut bisa dijadikan objek wisata karena suasananya yang masih perkampungan. Dulu aku masih sempatkan diri sepulang sekolah bersama teman2 pergi ke bendungan. Berapa kali pernah mengunjungi kolam pengembangbiakan ikan air tawar.
Tidak membosankan menurutku yang masih anak SD kelas 3 ini, karena peternak ikannya baik, kita diizinkan belajar menangkap ikan langsung kedalam kolam yang ikannya berusia rata2 remaja untuk dipindahkan ke kolam yang lebih besar. Serunya aku dan teman2 harus basah kuyup mengejar ikan yang gesit berenang.
Di saat2 liburan panjang barulah aku dan keluarga mengisi waktu berkeliling keluar wilayah Kotabumi. Aku sekeluarga pernah ke Pantai Pasir Putih di Kalianda Lampung Selatan, dengan kendaraan pribadi waktu yang ditempuh cukup 45 menit dari ibukota Bandar Lampung.
Pantai yang sangaaat indah! Pasir pantainya berwarna putih dan sangat halus, air lautnya jernih. Kalau kita naik perahu motor sampai ke daerah yang tidak terlalu dalam, dengan menggunakan kotak kaca kita bisa melihat pemandangan bawah laut ada terumbu karang dan ikan2 yang berwarna-warni.
Pernah juga aku berlibur ke Lampung Timur, mampir ke Pusat Latihan Gajah (PLG), Way Kambas, yang memakan waktu 1,5 jam dari Kota Bandar Lampung. Saat masuk kawasan PLG aku sempat dikejutkan dengan adanya beberapa gajah liar yang dirantai besi di pinggir jalan gerbang masuk PLG. Tapi justru itu yang menarik perhatian wisatawan disana, bahwa menujukan benar adanya gajah liar di perhutanan Lampung yang dulu suka merusak perkebunan dan menakutkan masyarakat Lampung. Tapi kini tangkapan Gajah liar oleh tim PLG diubah jadi Binatang tambun yang lucu, jinak, penurut dan jago beratraksi bak pemain sirkus. Andalan aksi gajah PLG adalah main bola, langkah melintasi baringan tubuh manusia dan keliling menunggangi gajah.
Liburan yang mengagumkan menurutku. Tambah lagi kenanganku akan tempat-tempat wisata unggulan kota-kota kecil di Sumatera.
Ada pusat wisata Lampung yang lebih menarik, Gunung Anak Krakatau. Tapi aku belum ada waktu untuk kesana, karena lagi-lagi aku harus ikut orang tua pindah. Kali ini ayahku mendapat kesempatan pendidikan Sespim (Sekolah Staff dan Pimpinan) di Lembang, Jawa Barat. Agar tidak merepotkan urusan sekolah akhirnya diputuskan aku dan adikku menetap di rumah ortu di Jakarta.
[Jakarta II]
Kenangan apa yang dapat aku ceritakan selama kembali lagi menetap di Jakarta? Kalau kaitannya sama berwisata, bisa dikatakan: tidak ada.
Saat itu aku berumur 10 tahun lebih disibukkan dengan kegiatan sekolah dan les ketat untuk mengejar ketinggalan beberapa mata pelajaran SD kelas 4 & 5 di Jakarta. Maklumlah, ilmu dan metode KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) SD negeri yang aku dapat di daerah berbeda dengan ilmu dan metode KBM SD swasta di Jakarta. Belum lagi waktu tinggal di daerah aku punya kebiasaan buruk yang diistilahkan ‘ayam betelor’ oleh Ibuku. Sehari masuk sehari nggak. Alasannya, untuk ukuran anak kecil lingkungan rumahku termasuk banyak godaan untuk bermain, karena telat bangun juga, makanya aku sering bolos sekolah.
Tidak sia-sia ternyata, kewajibanku dalam menuntut ilmu dengan sibuk les dan bolak-balik tiap hari bersekolah dari tempat tinggal di Pondok Pinang Bintaro ke lokasi sekolah di Cipete, membuatku setiap cawunya mendapat ranking 5 besar terus. Ada rasa bangga pastinya, selama 1,5 tahun pisah ditinggal ortu ke Lembang, aku dan adikku bisa membuktikan mampu disiplin dan konsentrasi belajar tanpa bimbingan ortu 24 jam x seminggu. Tidak main2 nih, menurutku. Mengingat sebentar lagi aku kelas 6 dan siap-siap lulus SD. Semangat belajar harus digenjot lagi..lupain urusan jalan2 di daerah. Saat ini aku di Jakarta, semua urusan diselingi dengan rasa bersaing. Hidup ini keras, Bung! (alagh!).
Saat libur sekolah di pertengahan tahun 1995, Ayahku lulus Sespim. Ketika itu setibanya Beliau di Jakarta kami sekeluarga mendapat berita yang mengejutkan. Ayah ditugaskan ke wilayah Timur Indonesia. Selama ini Ortuku selalu ditugaskan di daerah Indonesia bagian Barat.
Begitu mendengar kota Itu rasanya jauuuh sekali…
Mendengarnya…otakku dipenuhi berbagai pertanyaan.
Orang-orangnya seperti apa ya?. Ada mobil ngga ya?.ngomongnya, bahasa Indonesia juga?.
aku membayangkan kota itu bagai sebuah pulau yang dipenuhi hutan dengan rumah penduduknya yang jarang2 tanpa fasilitas listrik yang memadai.
Melihat ekspresi adikku, sepertinya dia juga membayangkan kengerian yang sama.
Tiba2 semangat menuntut ilmuku mengendor. Karena mulai terbiasa dengan suasana
bersekolah swasta di Jakarta, kini sedikit bingung bagaimana mulai adaptasinya
saat kelas 6 nanti ditempat yang baru.
Tuhan, jangan biarkan aku dibawa ke
kota itu nun sanaaa…takut ga bisa balik lagi ketemu nenek di kampung Suliki,
Payakumbuh.Please…- Jah! Alasannya sih bukan itu. Makanya ga dikabulkan
doaku :P
Dear Diary,
Cerita ini bersambung ke… DARI SETIAP KOTA. BAGIAN II : KOTA-KOTA DI TIMUR NUSANTARA.







joyful:
belakangan... orang2 bener-bener giat mengulas sumatera
dan aku.... bener-bener terpengaruh.
yuk yuk... sumatera yuk...
Bikeman:
mafioso:
Kalo ngga salah baca masih blom dibahas tentang kota Penyabungan yah mbak?
Ada hubungannya sama lagu dari sabang sampe merauke? "sabung-Penyabung menjadi satu itulah indonesia" ???
Ada apakah disitu?
vampirm...:
Kalo ngga salah baca masih blom dibahas tentang kota Penyabungan yah mbak?
Ada hubungannya sama lagu dari sabang sampe merauke? "sabung-Penyabung menjadi satu itulah indonesia" ???
Ada apakah disitu?
nyaah~ emang ga dibahas paaak, pegimane ente*ctuk!
dulu masih keecamatan di Tapsel sekarang baru ngetop jadi ibukota Mandailing Natal. nah coba..lanjut nyanyi lagi om.
vampirm...:
belakangan... orang2 bener-bener giat mengulas sumatera
dan aku.... bener-bener terpengaruh.
yuk yuk... sumatera yuk...
yu..ya....ywuuuuuuuQ! ~
jadi mo ke gunung kerinci seblat? atao...pulau anak karakatau?
siap pak! siap2 dirangkum lagi...maklum...cerita ini hasil dari tugas sma dulu, disuruh bikin autobiografi 150 hal.
mafioso:
dulu masih keecamatan di Tapsel sekarang baru ngetop jadi ibukota Mandailing Natal. nah coba..lanjut nyanyi lagi om.
jadi binunkkk, bukannya Natal udah lewat? ini udah taon baruw tantee...
ehm... lagi serak2 becek nih, mo nyanyi ntar tetangga sebelah treak2...
rasahnesu:
siap pak! siap2 dirangkum lagi...maklum...cerita ini hasil dari tugas sma dulu, disuruh bikin autobiografi 150 hal.
buset 150 halaman?? tega bener gurunya... pantesan pindah2 mulu ya mbak, xixixixi
hix maap nimbrung...
vampirm...:
Betul sekali pak, kalau gitu belum terlambat ucapin:
to All: HAPPY NEW YEAR 2009!
vampirm...:
Tega emang..tapi..
pas dah jadi trus dijilid..malah terharu ga nyangka gw berhasil tapak tilas kenangan pribadi mulai balita mpe sekarang..klo dibaca lagi gw suka senyum2 sendiri
ayo mas bikin biografi juga..share disini ya.hehehe
tigakom...:
Boleh ksh usulan judul foto??
"Hormaaaattt Grakkk!!" upacara ditengah sawah:D
*kabuuurrr....
~DTS~
tigakom...:
siap pak! siap2 dirangkum lagi...maklum...cerita ini hasil dari tugas sma dulu, disuruh bikin autobiografi 150 hal.
buset 150 halaman?? tega bener gurunya... pantesan pindah2 mulu ya mbak, xixixixi
hix maap nimbrung...
Gilingan....banyak bettuuullll......
Kalah deh biografinya pak Harto.....
~DTS~
vampirm...:
Gilingan....banyak bettuuullll......
Kalah deh biografinya pak Harto.....
~DTS~
ya wajar duuunk ..
kan gw yang ajarin pak Harto nulis dan mengarang di hari tuanya.
Denna:
rudy:
Sumatera, Wuih memang indah Pulau itu, berdasarkan pengalaman mengendarai motor keliling Pulau Sumatera, memang sungguh Indah, Mulai dari Lampung sampai Pulau Weh.
Pengalaman Yang paling seru pada saat melintas dari Tarutung menuju Sibolga, Saya takjub dengan Batu Lubang.
Pokoknya Sumatera Indah Tenan
Timmy:
Sumatera, Wuih memang indah Pulau itu, berdasarkan pengalaman mengendarai motor keliling Pulau Sumatera, memang sungguh Indah, Mulai dari Lampung sampai Pulau Weh.
Pengalaman Yang paling seru pada saat melintas dari Tarutung menuju Sibolga, Saya takjub dengan Batu Lubang.
Pokoknya Sumatera Indah Tenan
Kalau gitu bagi dong storynya *nodong*, supaya bisa kenal lebih jauh sama mas rudy.. eh salah kamsudnya sama pulau sumateranya
rudy:
Ykev:
vampirm...:
@denna& Ykev,
terima kasih ya..
thank to Editor juga krn ceritaku terpilih di best story, mudah2an lanjutan keduanya bisa cepet2 aku rangkum n publish disini :)