Money No Problem Ha??
Siang terik itu terpaksa aku panggil taksi dijalan. Kulihat si supir, sepertinya dia orang Pakistan atau Bangladesh.
"Saudi Operation", Kataku ke dia. Lalu dia menyebut sebuah angka sekian Real (SAR).
(Persis kaya di Bandung. Taksinya make argo kuda. Berhubung ini di gurun, istilahnya jadi argo Onta kali yaa)
Tanpa banyak babibu, kunyatakan setuju. Dia nyupir macam orang baru belajar aja. Itu pedal gas dan rem seperti saklar on-off, bukan variable switch yang bisa ditekan perlahan. Sama sekali ga ada alus alusnya nyupir. Mbok ya kalo neken pedal gas atau rem itu pelan pelan nginjeknya, jadi berasa smooth.
Berbeda sekali dengan Mas Parto, supir langgananku. taksinya itu mobil Camry dan dirawat layaknya mobil sendiri.
Sering kulihat dia ngelap dashboard dan membersihkan mobilnya sambil nunggu aku turun.
Sebenarnya aku lebih sreg dengan supir langgananku.
Selain cara nyupirnya halus, kalau berbicara ga perlu roaming:))
Dia TKI yang sudah lama disana. Orang Jawa pulak.
Sayangnya dia sedang mengantar penumpang, jadilah aku harus mencari taksi sendiri.
Malas aku mengobrol dengan supir taksi ini karena udah keburu bete sama gaya nyupirnya yg ajrut ajrutan.
Lalu aku beres beres dan masang ID card dan epolet Bar 3 dipundakku. Mokal aja klo make gitu diluaran.
Si supir melirik ke spion tengah lalu angkat bicara, "Ah, uniform, You work for Saudi Airlines?"
"I think so", jawabku malas.
"Where are you come from?"
"Indonesia", balasku singkat. Wah ni orang mulai sok akrab.
"Ah Indonesia..You got Saudi Airlines, big company... good jobs..", dia mulai ngoceh.
Ga jelas ni orang pikirku. Mana bahasa inggrisnya lebih ancur dariku.
"so, money no problem ha?", lanjutnya.
"Excuse me?"
"Ya, money no problem, give me more 10 Reals", katanya nembak.
"What??,we had agreed the price!", Aku mulai naek pitam.
Lumayan tu 10 Real buat beli rokok kretek yang amat susah didapat dan mahal.
"No no no...10 reals more", desak dia.
Kukenal daerah ini dan kuliat kantor seorang teman, seketika kuputuskan tuk minta berenti disini.
Kalau nanti terjadi apa apa, paling tidak ada yang kukenal.
Walau dia ngamuk ngamuk dengan bahasa inggrisnya yg ga karuan, aku insist tuk minta stop.
Kukasih sesuai harga awal sambil keluar mobil. Dia kekeuh minta tambahan 10 Reals.
Sungguh gatau diri. "I said No!, You drove ajrut ajrutan" kalimatku meninggi.
"What?", dengan tampang bloon nya dia bingung.
"Ajrut ajrutan, Brengsek!!", kataku sambil banting pintu dan melengos pergi.
Yakin dia ga mudeng kalimatku dan paling enggak puas bs teriak didepan mukanya.
Memang, selama aku di Jeddah, selalu ada saja insiden dengan supir taksi dari negara2 tertentu.
Entah bhs inggrisnya ngaco, mencoba grepe grepe (padahal cowo), sampe seenaknya sendiri kasih harga mentang mentang argo Onta.





