Bosscha di Malabar


Kawan, ketika mendengar kata Bosscha,
bagiku identik dengan teropong bintang yang ada di Lembang, Bandung.
Tahu yang kumaksud? itu adalah observatorium Bosscha, lembaga penelitian dibawah naungan ITB.
Ternyata ada kisah lain dibalik itu, penggagas observatorium -Meneer Bosscha- sendiri tinggal di daerah Malabar.
Jika Lembang berada di Utara Bandung, sedangkan rumah peristirahatannya (termasuk peristirahatan terakhir) berada di Pengalengan.
Kalau dari kota Bandung sekitar 40-50 km ke selatan. (Dulu naek apa ya klo ke Lembang, jalan tol Bandung kan belum ada).

Aku tidak tahu persis, dari literatur tempat ini berada pada ketinggian sekitar 1500 meter DPL.
Pegunungannya sekitar 2200 meter dpl. Kawan, hawa ini cukup dingin untuk ukuranku yang biasa hidup di Jakarta.

Karel Albert Rudolf Bosscha adalah sosok yang merintis dan membuka perkebunan teh ini pada tahun 1890. Landscape yang dibuat terlihat apik dengan jalan jalan setapak bergaris garis diantara warna hijau hamparan pohon teh. Dulunya memang disediakan untuk mengontrol perkebunan ini oleh Bosscha. Sekarang, selain berfungsi sebagai penunjang operasional perkebunan, kita bisa memakainya untuk teawalk. Kawan, tentu saja kau bisa memakainya untuk jalur longmarch seperti ospek jamanku dulu:)).

Saat ini perkebunan teh ditangani oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII. Kisah tentang keseluruhan proses dari pembukaan lahan hingga pabrikan teh di perkebunan Malabar ini difilmkan oleh Andre de la Varre dengan judul "The Story of Tea" pada tahun 1937. Kondisinya sangat berbeda ketika aku berada diatas perbukitan dan memandang bebas hamparan kebun teh disana, kemudian membandingkan apa yang terjadi pada tahun 1937 termasuk kuekstrapolasi saat Meneer Bosscha membuka lahan tahun tahun sebelumnya ketika pembukaan lahan pertama kali. Ketika kulihat film itu di Youtube terlihat hitam, putih dan suram, sedangkan apa yang ada dihadapanku ini sangat hijau dan asri. Kontras, sangat kontras sekali kawan!.

Lelah berjalan, kusempatkan beristirahat di Wisma yang dulunya bekas Kantor administrator perkebunan.
Rumah yang dibangun tahun 1894 ini dijaga keasliannya. Interiornya pun yang selamat dari pembumihangusan jaman Jepang juga dipertahankan seperti piano dan beberapa perabot lain. Satu hal yang jelas tidak dipertahankan adalah pemilik dan pemakai rumah ini dulu: Meneer Bosscha. Berada dalam rumah ini membawa ke kehidupan jaman dahulu. Entah mengapa aku selalu tertarik dengan masa lalu. Kawan, masa lalu memang tidak bisa dilepaskan. Ia akan tetap bersemayam entah dalam pikiran atau celotehan turun temurun petani bercaping yang memetik teh itu.




Aku sangat menikmati keheningan khas pegunungan, hamparan karpet hijau yang setinggi pinggangku, beberapa vegetasi yang juga berumur tua ditambah udara sejuk -cenderung dingin- sangat membantu me-reset kembali pikiranku yang hingar bingar. Itulah kawan, mengapa kusempatkan ke Malabar walau hanya sebentar.


Satu sendok kesejukan
kucairkan bersama keheningan,
dengan setetes anodyne
tentu tanpa tambahan sakarin


ku hanya mencoba sembuhkan
pendarahan verbal yang makin parah
makin lama makin lebar
takut tak bisa kuhentikan

Kuseruput khayal yang makin berpendar
Pikiranku berjingkat pergi
berusaha melupakan masa lalu yang pahit

Aku tak mau keruwetan bersemayam terlalu lama
takut berubah menjadi patologis
cilakanya scalpel ku tak sanggup lagi
meng-insisi hatiku yang terlanjur membeku

Kawan, sempatkanlah mampir ke Malabar, banyak yang bisa engkau lihat dan rasakan.
Tempat ini menyediakan pemandangan untuk menyejukkan hati. Sekelilingnya masih banyak yang dapat engkau nikmati, mulai dari hamparan air di Situ, bersepeda ke gunung kadang diiringi gerombolan awan mendung seperti saat aku kesana. Tak heran jika Bosscha sangat yang mencintai tanah ini, hingga jasadnya pun ingin disatukan kembali. Ia memilih bumi Malabar, bersemayam diantara kebun, tempat dimana nenek moyangnya pohon teh yang dulu ia tanam.

Aku ingin tinggal lebih lama disini, tapi tak bisa. Keheningan yang menemaniku disini telah lenyap.
Keheningan adalah satu satunya yang ketika kau panggil namanya malah menghilang.
Sebelum ku pergi, kuhabiskan secangkir kopi yang makin dingin ini.
Kawan, aku tahu memang ironis.
Dibelantara pohon teh dan pabrik teh berkualitas tinggi, aku malah menikmati kopi, tanpa glukosa dan sakarin.
Ya, itulah kehidupan, kadang ironis.

~DTS~

-----
Anodyne: Painkiller
ScalpelĀ  : Pisau bedah
Sakarin : Pemanis Buatan

Referensi:
- Pengalaman diri sendiri :(
- PTPN VIII
- Tempo Interaktif
- http://info.bdg.tripod.com/malabar/text_01i.htm
- http://id.wikipedia.org/wiki/Karel_Albert_Rudolf_Bosscha

Location:

Malabar, Pengalengan
Jawa Barat
Indonesia


5
1 vote
tigakomalima's picture

Comments

Silvana:

Silvana's picture
blm pernah ke bosscha Frown