Teluk Lumba-lumba
Cahaya kemerahan terlihat di angkasa, tanda hari menjelang usai. Sebenarnya cukup lelah untuk menuju Teluk Kiluan, tapi suasana Teluk Kiluan di sore hari pasti sangat indah, sayang kalau dilewatkan begitu saja.
Terbayang sore hari di Teluk yang berbatasan dengan Samudera Hindia ini sungguh tenang dan damai. Dikarenakan letaknya, Teluk ini memiliki ikan dan terumbu karang yang bermacam-macam. Teluk ini pun disebut sebagai Teluk Lumba-lumba, karena kita bisa melihat atraksi Lumba-lumba di laut lepas.
Untuk melihat lumba-lumba, saya melakukan perjalanan dengan perahu dari dermaga kecil di Desa Bandung Jaya. Waktu yang dibutuhkan sekitar 1.5 jam. Bersyukurnya pemandangan disana indah, jadi tidak membosankan.
Memang Teluk Kiluan tidak seterkenal Teluk Semangka yang sama-sama ada di Lampung. Bahkan, teluk ini jarang terdapat di peta. Sayang ya, padahal jaraknya tidak terlalu jauh dari Bandar Lampung (hanya 80 KM), atau 60 KM dari Kota Agung.
Lumayan sulit untuk mencapai kesana, karena kendaraan hanya bisa sampai Desa Bawang, Kab. Lampung Selatan. Dilanjutkan dengan ojek. Tarifnya Rp. 30.000 (padahal jaraknya kurang lebih 10 km). Tapi masuk akal sih, mengingat jalannya yang sulit, motor harus mendaki gunung, jalannya cukup sempit, apalagi kalau musim hujan, pasti licin.
Teluk kiluan memiliki dua spesies lumba-lumba. Spesies pertama, berwarna abu-abu dan sedikit pemalu, memiliki badan yang lebih besar, namanya Lumba-lumba Hidung Botol (Tursiops Truncatus). Yang satunya adalah Lumba-lumba Paruh Panjang (Stenella Longirostris), bertubuh lebih kecil dan senang melompat.
Ketika melihat mereka melompat bergantian, rasanya senang sekali. Jarang-jarang saya melihat fenomena seperti ini. Sangat menggemaskan, apalagi Lumba-lumba ini cukup akrab dengan manusia. Mereka mau dekat-dekat perahu dan sepertinya mereka senang. Saking dekatnya mereka dapat disentuh. Rasanya ingin sekali memeluk dan mencium mereka. Lumba-lumba terus berlompatan, seolah-olah mereka mau memamerkan diri.
Saking maraknya perburuan Lumba-lumba, mereka hanya dapat disaksikan di tengah laut. Konon, pada tahun 1980-an, Nelayan-nelayan disana sering berteriak dari pantai, "lumba-lumbanya ada ribuan... ribuan!!". Sekarang dari Pantai, lumba-lumba tidak akan terlihat lagi.
Saya hanya berpikir, masih banyak tangan-tangan jahil yang dapat merusak keindahan Teluk Kiluan. Semoga kesadaran untuk memelihara dan melestarikan alam disekitar kita dapat ditumbuhkan di hati masing-masing orang.
PS: menyesal ga ambil foto lumba-lumba, terlalu asik menikmati pemandangan lumba-lumba.






Bikeman:
nah ini surganya para pemancing nih...
ikannya emang banyak banget
Onay:
wah bisa berenang bareng lumba-lumba tuh.....
tapi kalo putri duyungnya ada ga yaa...........
Karen:
nah akhirnya... ada jg yg nulis ttg lampung... aku pengen jalan ke lampung tp ga tau mesti kemana kekekekk
tapi kok naik ojek pake nanjak2 ke gunung ya... hue... rada syerem :D
Winz:
sayang banget kalau tangan2 jahil sampai merusak tempat2 yang punya potensi pariwisata
semoga kesadaran kita sama alam tambah tinggi... toh kalau alamnya kita jaga dengan baik, alam ngga akan ngerusak balik
DoDoLipet:
wah bisa berenang bareng lumba-lumba tuh.....
tapi kalo putri duyungnya ada ga yaa...........
seru loh berenang dengan lumba-lumba... aq dah pernah coba
abam:
wah bisa berenang bareng lumba-lumba tuh.....
tapi kalo putri duyungnya ada ga yaa...........
seru loh berenang dengan lumba-lumba... aq dah pernah coba
gimana rasanya tuh mbak omie??
tukangj...:
waduh gw baru tau ada teluk lumba-lumba,,,,,,,,, tau gitu kan pas gw kemaren ke lampung bisa kesini nih,,,
menyesal menyesal hehehehe
makasi infonya next klo ke lampung ga bakalan gw lewatin deh