Tsunami Was Here
Tahun 2004 tsunami menghajar bumi rencong ini. 26 Desember 2004 tepatnya.Tiga tahun kemudian, saya berkunjung ke Aceh. Tak banyak memang lokasi yang saya datangi.
Hanya beberapa tempat tempat monumental yang menjadi saksi bisu saat musibah dulu.
Masjid Baiturrahman adalah yang pertama saya datangi, dengan alasan
sederhana saja: karena terletak di tengah kota Banda Aceh. Masjid ini
memiliki makna tersendiri dan merupakan kebanggaan serta simbol
masyarakat Aceh. Selain karena sejarah perjuangan rakyat Aceh saat
penjajahan Belanda, ketika tsunami terjadi, masjid ini tetap berdiri
kokoh dan menyelamatkan banyak masyarakat Aceh. Saat saya kesini, masjid ini sedang
direnovasi/restorasi di beberapa bagian. Arsitektur bangunannya sangat
bagus loh. Kubahnya itu jg khas. Tak heran kalau mesjid ini salah satu
mesjid terindah di Indonesia.
Mesjid berikutnya adalah mesjid di dekat pelabuhan Ulee Lhue. Sayangnya
saya lupa namanya. Pelabuhan ini titik tolak perjalanan saya ke pulau
We, seperti yang pernah saya posting sebelumnya tentang titik nol.
Suatu mukjizat bahwa masjid ini sama sekali tidak diluluhlantakkan oleh
tsunami mengingat lokasinya yang tidak jauh dari pinggir pantai.
Lalu saya berkunjung ke Pemakaman massal. (sekali lagi saya lupa
namanya). Lokasi ini ada disebelah kiri jika kita berjalan menuju
pelabuhan. Arsitekturnya menarik. Dibangun untuk mengingat tsunami
serta terdapat monumen yang berputar jika dihembus angin yang cukup
kencang. Maaf, saya tidak memfotonya atas dasar kehidmatan.
Kemudian PLTD APUNG I. Lokasinya sekitar 2-3km dr Ulee Lhue. Can you
imagine it??Itu kapal yang tadinya dilaut lalu terhempas masuk sampai 2
km kedarat. Konon kapal ini landing diatas tiga rumah. Bahkan mungkin
korban yang tertindih pun masih disitu. Saat ini PLTD Apung I tidak
digunakan lagi. Pembangkit berkapasitas 100 mega watt teronggok diam
menjadi objek wisata bukti keganasan alam. Mungkin suatu hari nanti,
kapal itu kembali menjadi fitrahnya berjaya di laut saat bumi terus
menerus mencairkan es di kutub. Namun untuk ini saya tidak berdoa hal
itu untuk terjadi. Mari stop global warming!!
Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa dikunjungi untuk melihat
seberapa jauh impact tsunami dulu. Namun saat ini hanya sejauh itu yang
bisa saya share disini.
Disela jalan menyusuri bukti bukti keganasan tsunami, saya lapar. Tentu harus makan donk ya....*teteeepppp
Makanan menarik disini (bagi saya loh:P):
1. Mie Aceh + Kepiting
2. Ayam Tangkap. (ga ngerti jg kenapa namanya begini. Padahal klo mau dimakan ya kudu ditangkap kan bo')
3.
Sale pisang. (hehehehe, hampir mirip spt di Bandung, tapi saya suka
yang mereka buat di Aceh ini). >> please check comments Perempuan
di Titik Nol
My Tips:
Try the Aceh Experience. Cobain nongkrong di warung kopi. Satu cangkir untuk seharian ga bakal diusir kaya kafe kafe di Jakarta.






joyful:
Denna:
rudy: