Panca Bali Krama, Harmonize the Universe
08.30
Minggu,
09.30
Pasar Badung memang selalu sibuk, pasar tradisional terbesar di Bali ini telah memulai kegiatannya sejak tengah malam. Saya mulai berputar mencari baju setelan untuk ke pura. Kepepet waktu, saya tidak sempat membandingkan harga sana-sini, alhasil, saya terpaksa membeli setelan seharga 300 ribuan. Ya sudahlah, toh kualitasnya juga bagus. Saya tidak ganti baju, hanya melapisi tanktop dan celana pendek saya dengan pakaian adat Bali. Lumayan juga, mirip orang Bali asli.
12.00
Pelataran parkir Pura Besar Besakih sudah sangat sesak. Beruntung kami masih mendapatkan tempat parkir di parkiran atas, lumayan dekat, hanya tinggal satu kilometer saja untuk berjalan. Hampir semua orang mengenakan pakaian adat Bali warna putih, hanya beberapa saja yang ngejreng. Sedikit kepayahan karena tidak biasa pakai kain, saya berjalan sambil menikmati pemandangan eksotis, rombongan penganut Hindu yang akan dan telah selesai berdoa, membawa sesajen di atas kepala mereka. Dari jauh, Pura Besakih terlihat meriah dengan aksesoris kanan-kiri.
12.30
Pak Sopir mengajak saya sembahyang di pura keluarganya. Di sekeliling pura utama, terdapat banyak pura kecil “milik” keluarga-keluarga besar di seluruh
Di pura besar juga serupa, warga Hindu Bali mengantri dengan sabar. Kelompok yang datang sebelumnya, sedang berdoa di dalam pura. Setelah mereka keluar, kelompok yang menunggu naik perlahan, tanpa rebutan, tanpa dorong-dorongan. Semua tertib. Saya salut. Bukan hanya itu, keterbukaan mereka terhadap penganut agama lain yang ingin mengambil bagian dalam seremoni, perlu diacungi jempol. Saya berpikir, kalau saja semua orang di Indonesia seterbuka mereka, tidak akan ada penindasan sesama manusia di negeri ini. Berdoa
Upacara Panca Bali Krama, dilakukan 10 tahun sekali, yaitu ketika tahun Saka diakhiri angka 0. Makna dari upacara ini adalah menghamoniskan kembali seluruh isi alam. Termasuk keseimbangan hubungan antar manusia, lingkungan, dan keduanya.
15.30
Rangkaian upacara sudah selesai saya ikuti. Setelah foto-foto (tentu saja…), saya meluncur kembali ke pelataran parkir, untuk melanjutkan perjalanan ke Celuk. Hanya sekalian mampir saja sih, saya tidak terlalu tertarik belanja.
Hari itu, kaki saya melangkah ringan. Mungkin saya sudah harmonized







Winz:
Saya berpikir, kalau saja semua orang di Indonesia seterbuka mereka, tidak akan ada penindasan sesama manusia di negeri ini. Berdoakan hubungan pribadi antara manusia dengan Tuhan, then… why bother? betul tidak?
------------
bali jadi contoh yang baik untuk pulau2 yang lain
menghormati sesama bukanlah hal yang susah bukan? tuh contohnya dah ada...
cinta:
wah... beruntung bangedz dong bisa ada disana... acara ini kan lama baru ada lagi...
tukangj...:
beruntung banget ya dapet momen langka ini,,,,