Mengenal “Joki Kecil”

Joki-joki Kecil

Joki Kecil adalah judul dari film dokumenter yang di produksi tahun 2005, dan mendapat berbagai macam penghargaan. Salah satunya adalah Eagle Award dari Metro TV. Film yang berdurasi 20 menit ini betul-betul menggambarkan keadaan yang sebenarnya di tengah-tengah masyarakat Sumba, Kabupaten Bima. Saya sempat melihat kegiatan pacuan kuda, yang ditunggangi anak-anak berusia 7-12 tahun waktu di Pulau Sumbawa.

Ternyata kalau melihat langsung rasanya lebih miris lagi. Anak-anak di sana dipaksa untuk menunggangi kuda acuan tanpa pelana, dan tanpa pengaman yang memadai. Saya kenal dengan salah seorang joki kecil, namanya Anto. Dia telah berprofesi sebagai Joki sejak umurnya 9 tahun, sekarang umurnya hampir 12 tahun. Tadi saya sempat melihat dia dipaksa naik ke atas kuda, walaupun dia sudah merintih kesakitan karena waktu start sebelumnya, kepalanya kena pembatas start. Belum kecelakaan yang dialami anak-anak lain. Taruhannya berat, bahkan bisa sampai kehilangan nyawa. Wah udah deh kalau diceritain entar sakit hati.

Kegiatan ini juga disertai dengan aspek magis. Banyak “orang pintar” di tempat pacuan kuda. Baik untuk mengobati yang sakit/patah tulang, atau menjampe-jampe joki kecil supaya jadi pemenang. Kebanyakan sih saya  liat di mantrainnya sambil disembur air dari mulut “orang pintar”. Tau deh baunya kaya apa hehe.

Saya tanya sama Anto, apakah senang dengan profesi ini? Dia bilang, “Aku bangga jadi joki cilik, kalau aku menang banyak yang suka. Tapi kalau udah jatuh itu yang ga enak”. Terus saya tanya lagi, “Dapat uang berapa kalau menang?”. Anto menjawab, “ Tiga puluh ribu, kalau lagi baik saya bisa dikasih lima puluh ribu”, dia menjawab sambil tersenyum. Aduh hati ini rasanya sakit mendengar jawaban yang keluar dari bibir mungil Anto. Betul-betul ga sebanding dengan resikonya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) NTB, mengatakan pacuan kuda joki kecil ini bisa dijadikan daya tarik pariwisata NTB. Ya bagus sih, TAPI tolong diperhatikan safetynya. Hmm kalau dapat menjamin keamanan para joki kecil sih ga masalah, tapi kalau begini terus saya ga setuju. Bingung juga sama pemerintah setempat, sepertinya kurang kepedulian sama joki-joki ini. Apa hal ini sudah menjadi budaya? Abis deh badan anak-anak itu.

Untuk lebih jelasnya, bisa nonton film dokumenternya “Joki Kecil”. Di sana persis seperti yang saya alami waktu di Bima. Semoga budaya ini hanya satu dari sekian banyak daerah di Indonesia.



 

 

 

Location:

Pulau Sumbawa
Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat
Indonesia


0
love_adv's picture

Comments

Bikeman:

Bikeman's picture

kalau ga salah TV lain juga pernah tayangin "joki kecil"...

kasian anak2 disana, udah nangis2 kesakitan, masih dipaksa naik ke atas kuda

orangtuanya gimana ya?


love_adv:

love_adv's picture

Bikeman wrote:

kalau ga salah TV lain juga pernah tayangin "joki kecil"...

kasian anak2 disana, udah nangis2 kesakitan, masih dipaksa naik ke atas kuda

orangtuanya gimana ya?

yaaa... ikutan taruhan


Ucang:

Ucang's picture

sepertinya disana, hal ini sudah menjadi budaya, yang "gak mungkin" hilang... alias turun temurun..



Moiii:

Moiii's picture

aku udah nonton filmnya... huhuhu.... sedih dan ga tega :(


ochie:

ochie's picture

ngantuk... baca cerita ini jadi melek lagi... nice story :)



joyful:

joyful's picture

Aku pernah ketemu/liat mereka beraksi... aku pikir mereka itu "makmur" lahir batin...
taunya...