Rambu Solo
Ho ho ho... akhirnya kesampaian juga untuk menginjakkan kaki di Tanah Toraja. Disinilah kampung halaman kakek dan nenekku. Terletak di 350 km sebelah Utara Makassar ini sangat terkenal dengan bangunan rumah adatnya yang bernama TONGKONAN bukan TONGKRONGAN.
Rumah orang Toraja ini memiliki atap yang terbuat dari daun kelapa, dan ternyata mampu bertahan sampai 50 tahun loh. Lama juga ya... genteng kita aja belum tentu sekuat itu he..he.. Selain itu bangunan ini juga memiliki strata sesuai dengan derajat kebangsawanan. Tanah Toraja ini selain memiliki rumah adat, ternyata juga memiliki adat istiadat yang unik dalam hal menghormati kematian.
Setau aku beberapa daerah punya tradisi untuk menghormati kematian. Kalau di Bali kita mengenalnya dengan Ngaben, di Sumatera Utara ada Sarimatua, nah kalau di Tanah Toraja dikenal dengan upacara Rambu Solo. Upacara kematian ini adalah suatu tradisi mewah, karena memakan waktu berhari-hari untuk merayakannya. Malah bisa sampai dua minggu, biasanya kalau yang meninggal bangsawan. Jenazah-jenazah orang Toraja akan dikubur di tebing di bukit batu.
Konon masyarakat Toraja menganut kepercayaan Aluk To Dolo. Kepercayaan ini menganggap bahwa semakin tinggi tempat jenazah tersebut diletakkan di tebing, maka semakin cepat pula rohnya sampai ke nirwana / surga. Hmm dulu katanya leluhur orang Toraja adalah manusia yang berasal dari Nirwana. Mitos tersebut dipercaya oleh masyarakat disana sampai sekarang. Legenda ini menceritakan bahwa leluhur turun ke dunia pertama2 menggunakan tangga dari langit, yang kemudian berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa).
Selain daya tarik itu, Tanah Toraja memiliki kuburan bayi di atas Pohon Tarra di Kampung Kambira, Kecamatan Sangalla, kurang lebih 20 km dari Rantepao. Bayi-bayi tersebut berumur 0-7 tahun. Tapi sekarang udah engga lagi kok. Tradisi tersebut sudah lama tidak diadakan lagi. Namun demikian menjadi objek wisata yang sangat diminati oleh wisatawan.
Pohon tempat 'mengubur' mayat bayi itu masih tetap ada. Di atas pohon tarra tersimpan puluhan jenazah bayi. Cara memasukkannya adalah dengan membuat bolongan di batang kayu, kemudian mayat bayi tersebut diletakkan kedalam dan kemudian ditutupi dengan serat pohon kelapa berwarna hitam. Nah setelah puluhan tahun bayi tersebut akan menyatu dengan pohon. Tempat ini dianggap suci.






Aurell:
mau tanya, kalau untuk mencapai kesana gimana?
ochie:
tau sih tentang tebing tempat orang-orang dikubur
tapi belum tau tentang pohon untuk penyimpanan jenazah bayi hiiiii
Jimm:
mau tanya, kalau untuk mencapai kesana gimana?
pake pesawat aja yang arah ke Makassar, setelah itu lanjut naik pesawat lagi ke tanah toraja (kurang lebih 45 menit sampai)
kalau lewat darat juga bisa, tapi harus tahan sampe 7 jam baru sampe...
pilih mana hayo???
joyful:
Hmm... pesawatnya mahal kali yeee :p
ada airasia ga? hihihi
Ucang:
airasia ada, tapi cuma sampe makassar hehehe