Ujung Genteng pegel tapi nikmat
Ujung Genteng berasal dari nama Ujung Gunting, itu karena letaknya yang berada di sudut pulau di Jawa Barat yang menyerupai gunting. Dimana bagian ujung gunting atas berada di Ujung Kulon dan bagian ujung gunting bawah berada di Ujung Genteng. Ujung Gunting --> Ujung Genteng. Ujung Genteng adalah pesisir pantai selatan Jawa Barat, terletak kurang lebih 220 km dari Jakarta, atau 230 km dari Bandung. 6 jam deh dari Jakarta.
Kami pergi ke Ujung Genteng berangkat dari Bogor, naik bis MGI jurusan Bogor-Surade, bis ini berangkat jam 07.30, 10.00 dan 13.00 WIB, nah dari Surade lanjut dengan angkot merah ke Ujung Genteng. Ternyata ga terlalu sulit :)
Salah satu pesona dari Ujung Genteng adalah Pantai Pagumbuhan, disitulah penyu-penyu bertelur pada malam hari. Kalau mau lihat banyak penyu bertelur datanglah pada bulan Agustus, katanya sih penyu bisa mencapai 20 ekor. Penyu disini besar-besar, umurnya berkisar 100 tahunan alias 1 abad. Tua banget ya.
Selain itu, Ujung Genteng terkenal dengan keindahan muara Cipanarikan yang merupakan tempat bertemunya Sungai Cipanarikan yang membelah suakamarga Satwa Cikepuh dengan air laut. Air sungainya yang berbelok-belok membentuk alur yang menyerupai ular yang sedang berjalan, sehingga terbentuk hamparan pasir yang sangat luas. Pantai ini memang indah, pemandangan Sunsetnya indah, langitnya bagus, airnya jernih banget, apalagi dibandingkan dengan pantai Pangandaran atau Anyer, Pantai Ujung Genteng lebih bagus. Sayangnya pantai ini banyak terdapat batu karang, sehingga tidak dapat dipakai untuk berenang. Walaupun begitu, tempat ini ga kalah deh dengan Bali. Katanya sih hidden paradise, karena letaknya di ujung, terpencil, dan pasirnya putih.
Kami disana juga mencoba belajar untuk berselancar, ya pas ombaknya lagi ga terlalu besar sih... Salah satu kawasan adalah pantai ombak tujuh, sekitar 15 km dari Pangumbahan. Disebut begitu karena pantai ini memiliki tujuh ombak yang selalu datang berurutan dan tinggi. Karena masih pemula, belajar selancar belum bisa bisa, ga bisa sampai berdiri. Setengah berdiri jatuh, setengah berdiri jatuh, lama lama cape juga hehehe... tapi sempet dicoba terus, walaupun akhirnya kecapean dan ya udah deh belum berhasil jadinya. Dan sepertinya ombak disana memang untuk peselancar profesional, soalnya tinggi-tinggi.
Kami juga sempatkan jalan-jalan ke sekitar Ujung Genteng, dan akhirnya kami ke Curug (air terjun), namanya Curug Cikaso. Disini terdapat 3 air terjun. Untuk kesana harus naik perahu, kurang lebih 3 menitan, jalan kaki juga bisa kok. Sampai disana rasanya luar biasa, karena sekali memandang tiga air terjun kita nikmati.
Kalau makanan khasnya adalah ketan kacang (ketan berbumbu yang sudah diaduk dengan kacang tanah dan dibungkus daun pisang) serta mochi Kaswari yang terbuat dari campuran tepung ketan, tepung tapioka, gula pasir dan kacang tanah dengan aneka rasa durian.
Untuk mencapai Ujung Genteng pegel sih, tapi rasa itu hilang setelah sampai disana... sangat menyejukkan hati.






Timmy:
rudy:
Ican:
sekarang sih udah agak membaik mas... dan ga terlalu terganggu selama perjalanan
tigakom...:
Quote: Penyu disini besar-besar, umurnya berkisar 100 tahunan alias 1 abad. Tua banget ya.
Master Ougway...Ijinkan saya untuk berguru...
Tapi saya ga mau pegel pegel kaya mas Ican...
joyful:
Ujung Genteng itu kayanya punya pelet... udah jalannya rusak, jauhnya seampun-ampun... tapi temen2ku pada ngga kapok tuh, balik lagi...balik lagi...
Ican:
Master Ougway...Ijinkan saya untuk berguru...
Tapi saya ga mau pegel pegel kaya mas Ican...
Huehehehe wah ga jamin deh, pasti pegel :P
kecuali rumahnya tetanggaan sama Master Ougway, jadi ga perlu jauh jauh berguru:D