Pendakian Gunung Slamet dihentikan Sementara

No replies
Mariska's picture
Points: 204
User offline. Last seen 2 years 2 weeks ago.

Perhutani meminta aktivitas pendakian di Gunung Slamet dihentikan sementara.

Menurut Asisten Perhutani (Asper) BKPH Banyumas Timur Kusnadi, hal itu untuk mencegah pendaki celaka.

Menurutnya, selama Januari hingga Maret, cuaca di gunung berketinggian 3.428 m di atas permukaan laut (dpl) itu sering memburuk. Cuaca baru akan membaik pada bulan April.

Sering terjadi, di puncak terjadi lebat tetapi di bawah masih cerah. Angin kencang, badai, dan sambaran petir juga bisa terjadi setiap saat.

 

Pada saat semacam itu, pendaki akan menghadapi bahaya, karena angin kencang bisa menyebabkan pohon roboh dvan menimpa orang yang melintas di bawahnya.

‘’Angin, petir, kabut, dan hujan sangat dominan membuat pendaki tersesat. Apalagi di puncak, ketinggian semak perdu melebihi orang,’’ katanya.

Suhu di atas juga bisa sangat dingin, serta kabut tebal bisa turun dengan tiba-tiba. Kabut biasanya turun sebelum dan setelah hujan.
Pada saat itu jarak pandang menjadi sangat terbatas, dan pendaki bisa tersesat.

Aliran Sungai

Aliran sungai juga tidak bisa diandalkan untuk pedoman menemukan jalan pulang. Di puncak, aliran sungai itu bisa berakhir di jurang. Hal ini berbeda dengan aliran sungai di lereng yang biasanya menuju desa di bawah.

‘’Kami sudah mengimbau untuk tidak naik, tetapi nampaknya masih ada saja yang nekat. Kami tidak bisa melarang karena pos pendakian Bambangan yang mengelola instansi lain,’’ ujar Kusnadi.

Karena itu dia meminta agar pendaki lebih waspada dan ekstra hati-hati. Kalau bisa malah tidak usah melakukan naik.

‘’Jangan sampai peristiwa banyak pendaki tersesat di Gunung Merapi dan Gunung Salak, terjadi juga di sini,’’ katanya, kemarin.

Agar selamat, pendaki disarankan membawa kompas dan peta medan. Termasuk kelengkapan keselamatan lainnya, seperti tali, senter, batere cadangan, jas hujan, dan makanan.

Selain itu saat perjalanan, disarankan mereka memasang tanda khusus di jalur yang sudah dilewati. Tanda itu menjadi pedoman saat mereka turun.
‘’Namun biasanya tanda tak dibuat dan terus jalan saja. Kalau ingin lebih selamat, saat pendakian mengajak warga desa setempat, petugas Perhutani atau SAR,’’ katanya.(F10- 74)

 (suaramerdeka. com